34 Persen Guru Suka Datang Telat

JEMBER – Indeks pembangunan manusia Indonesia merosot dari tahun ke tahun. Salah satu pemicunya adalah masih kurang profesionalnya guru, walau sudah menerima sertifikasi profesi.

Demikian garis besar orasi ilmiah dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sulthon Masyhud, dalam pengukuhan guru besar Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (12/12/2012)…….

Hasil pemantauan di beberapa sekolah menunjukkan, bahwa banyak guru yang sudah memiliki jenjang pendidikan S1 dan telah lulus sertifikasi masih belum menunjukkan perubahan perilaku dan sikap profesional yang signifikan,” kata Masyhud.

Dari 50 orang guru SD yang diobservasi, 17 orang guru (34 persen) datang terlambat ke sekolah antara 15 – 35 menit, dan 27 orang (54 persen) tidak memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap. “Indikator tersebut menunjukkan, bahwa semangat kerja guru masih belum maksimal. Jika tidak segera diatasi, maka hal itu akan berdampak negatif dalam upaya pembangunan mutu pendidikan,” kata Masyhud.

Masyhud mengingatkan untuk membuat bahagia guru dalam menjalankan tugas di sekolah. Menurutnya, pembangunan semangat kerja guru dapat dimulai dari unit pendidikan yang paling kecil, yaitu sekolah. “Dalam hal ini kita bisa memaksimalkan peran kepala sekolah sebagai penanggung jawab lembaga dan peran pengawas sekolah,” katanya.

“Pembangunan semangat kerja guru menjadi tuntutan tugas profesional kepala sekolah. Tugas tersebut bahkan dapat dikatakan sebagai tugas utama sebelum membangun sistem manajemen lainnya di sekolah,” tambah Masyhud.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa variabel kepemimpinan kepala sekolah, variabel supervisi yang dilakukan kepala sekolah, pemberdayaan guru dalam pengambilan keputusan di sekolah, dan iklim organisasi sekolah memiliki hubungan yang signifikan, baik secara langsung, maupun tidak langsung dengan semangat kerja guru. Masyhud menyarankan, perlu dilakukannya peningkatan kompetensi kepala sekolah dalam empat hal tersebut. “Dengan meningkatnya kompetensi kepala sekolah dalam empat hal tersebut, maka para kepala sekolah diharapkan akan dapat membangun semangat kerja guru yang menjadi binaannya di sekolahnya masing,” katanya.

Masyhud menduga, pemberdayaan atau pelibatan guru dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para kepala sekolah, juga memiliki hubungan dengan semangat kerja guru. Pengambilan keputusan demokratis tersebut dapat meningkatkan moral dan tanggung jawab anggota dalam pelaksanaan keputusan yang telah diambil. “Peningkatan moral dan tanggung jawab tersebut dapat menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan lembaga,” katanya.

“Semangat kerja guru diduga juga berkaitan dengan iklim organisasi sekolah,” kata Masyhud. Ia mengakui, iklim organisasi sekolah merupakan suatu impresi atau kesan seseorang yang sulit dirumuskan secara tepat. Namun iklim orgaisasi sekolah tersebut dapat dipandang sebagai sesuatu yang membedakan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya.

“Iklim organisasi sekolah yang baik, yang kondusif dan penuh kekeluargaan akan membuat semangat kerja guru tinggi, dan sebaliknya iklim organisasi sekolah yang tidak menyenangkan, tidak kondusif akan dapat melemahkan semangat mengajar guru,” kata Masyhud.

Sumber : beritajatim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: