Oh Honorer, “Kalau melihat gaji mereka, Anda akan menangis”

imagesuuJember – Perwakilan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia menyampaikan pentingnya persebaran guru yang merata sebagai kunci sukses pendidikan nasional, saat bertemu dengan anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan DPRD Jember, Jawa Timur, Kamis (2/5/2013).

Menurut GMNI, distribusi guru berkualitas ke wilayah terpencil dan pelosok nyaris tak ada. Guru yang ditempatkan di sekolah-sekolah di wilayah terpencil atau pelosok rata-rata tidak dengan kapasitas yang sebanding dengan guru di perkotaan. Ini salah satu hal yang membuat hasil ujian nasional juga jeblok, karena tak meratanya tingkat pendudukan……….

GMNI juga mengingatkan, banyak infrastruktur pendidikan yang harus diperbaiki karena belum layak. Di lain pihak, kurikulum pendidikan selalu berganti-ganti, dan membuat siswa sebagai eksperimen. “Ganti menteri, ganti kurikulum,” kata salah satu aktivis.

Anggota Komisi D yang juga guru, Abdul Ghafur, mengatakan, pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan daerah, selain kesehatan, pertanian, dan ekonomi kecil. “Soal guru, kita memang kekurangan. Mengangkat guru saat ini juga simalakama bagi anggaran daerah,” katanya.

Menurut Ghafur, dunia pendidikan di Jember saat ini berutang budi pada guru tidak tetap (GTT) atau guru honorer. “Kalau melihat gaji mereka, Anda akan menangis. Gaji mereka sangat rendah, tapi tanggung jawab terhadap anak didik sangat tinggi,” katanya.

“Untung para GTT ini tidak menuntut menjadi pegawai negeri sipil. Kalau menjadi PNS, tentu anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) semakin terbebani. Saya menyebut mereka ini GTT, guru tidak tenang, gaji telat terus,” tambah Ghafur.

Mengenai kurikulum yang berganti, Ghafur bisa memahami. Beban kurikulum siswa dan guru saat ini sangat berat. “Anak SD kita sekarang bawa tas berat, isinya buku. Pelajarannya berat, sehingga harus ditinjau lagi,” katanya.

Sementara, Sahroni, anggota Komisi D dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, mengatakan, ada alokasi anggaran pendidikan dari pemerintah pusat yang terlambat dieksekusi. Alhasil, pembangunan infrastruktur pendidikan menjadi terhambat. “Kami sudah sering merekomendasikan untuk dieksekusi. Dana alokasi khusus tahun 2012 baru bisa dilaksanakan 2013. Ini dikarenakan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dana itu terlambat keluar,” katanya.

Terkait kualitas pendidikan, Sahroni menyatakan, secara personal, capaian prestasi siswa Jember bagus. “Namun jika dihitung komunal, capaian kita amsyong (payah),” katanya. Ini tak lepas dari tidak meratanya pendidikan dan kualitas guru di Jember. [wir]

Sumber : beritajatim

Satu Tanggapan

  1. Gak usah bersandiwara DPR mulai tahun dahulu kala sudah tahu dan sering GTT mengadu ke gedung DPR. tapi apa jawabnya ya……ya……terus tidur pulas. sampai banyak GTT pensiun gak terurus. Kalau begini baru mau nyalon coba-coba cari perhatian…..Dalam bahasa jawa DPR itu nggregetno lan mangkelno ati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: