Setengah Juta Guru Sudah UKG, Ini Rangkuman Nilai Sementaranya

SERIUS: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan meninjau pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 di Jakarta, kemarin. Anies didampingi Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata.

SERIUS: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan meninjau pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 di Jakarta, kemarin. Anies didampingi Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Sumarna Surapranata.

Uji kompetensi guru (UKG) sudah berjalan tiga hari. Catatan sementara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah lebih dari 527 ribu orang guru mengikuti UKG di seluruh Indonesia. Namun nilai UKG yang terangkum sementara masih belum menunjukkan capaian memuaskan.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Sumarna Suryapranata mengatakan nilai UKG memang belum dirangkum secara keseluruhan. Sebab sejumlah daerah ada yang belum menjalankan ujian tahunan itu. Selain itu jumlah guru yang sudah mengikuti UKG baru sekitar seperempat dari total sasaran.

Pejabat yang akrab disapa Pranata itu mengatakan sampai hari ketiga kemarin, belum ada rekor nilai UKG sempurna atau 100.
”Nilai paling tinggi rata-rata ada di atas 80 sampai 85,” katanya di kantor Kemendikbud kemarin. Pranata kemarin baru saja kembali dari kunjungan pemantauan UKG di wilayah Batam.

Meskipun belum ada rekor nilai UKG yang fantastis, Pranata mengatakan Kemendikbud tidak mempermasalahkannya. Sebab dia mengingatkan, di dalam UKG tidak dikenal sebutan lulus atau tidak lulus. Meskipun ada nilai acuan minimal 55, hanya digunakan sebagai patokan guru dengan kompetensi bagus dan jelek.

Dia belum menganalisa secara detail penyebab nilai UKG belum ada yang maksimal. Tetapi dari informasi yang dia terima, banyak guru mengeluhkan kesulitan mengerjakan jenis soal pedagogik atau kependidikan. Sebaliknya guru lebih lancar mengerjakan soal jenis professional sesuai dengan mata pelajaraan yang diampu.

Pranata juga mengatakan ada laporan guru banyak yang kesulitan menjawab soal mata pelajaran yang diampu. Kasus seperti ini biaasnya dialami guru yang tidak pernah dirotasi. ”Guru yang mulai masuk sampai sekarang di kelas itu-itu saja,” katanya.

Misalnya guru itu sudah sekian tahun selalu mengajar di kelas X SMA. Sementara di soal UKG materi yang diujikan meliputi bahan ajar di seluruh kelas atau tingkatan SMA (X, XI, dan XII). Dia mengatakan idealnya guru juga dirotasi secara berkala, supaya merasakan bahan ajar di semua tingkatan jenjang pendidikan.

Nilai UKG yang tidak memuaskan juga disuarakan oleh Kepala SMKN 30 Jakarta Esta Binta Siagian. Dia mengatakan sejak awal meyakini bakal mendapatkan nilai UKG tinggi.

”Tetapi ternyata tidak seperti yang saya bayangkan,” katanya saat diskusi di Kemendikbud kemarin. Secara blak-blakan dia mengatakan mendapatkan nilai ukaga kepala 6. Memang nilai ini di atas standar minimal 55, tetapi dia merasa belum puas.

Kepala SMPN 19 Jakarta Joko Suramto mengatakan sebelum UKG dimulai, para guru sudah bersiap sejak dini. Diantaranya adalah dengan bedah contoh soal UKG yang dilakukan sesame kelompok guru. (wan/JPG)

Sumber : Jawapos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: